Cara Budidaya Sorgum dan Prospeknya

Pin It

Sorgum atau sorghum, dengan nama ilmiah (Latin) Sorghum bicolor L. mocnch dikenal di Indonesia lebih sebagai tanaman tumpang sari. Sorgum memiliki segudang keuntungan untuk dibudidayakan, beberapa di antaranya berupa produktivitas dan daya adaptasinya yang tinggi, juga tahan terhadap penyakit dan hama tanaman. Sorgum merupakan jenis tanaman biji-bijian dengan kandungan nutrisi (protein tinggi) yang paling baik ditanam di wilayah beriklim basah dan lembap. Sorgum bisa diolah untuk dijadikan bahan pangan hingga bahan baku industri seperti kertas, lem, plastis, cat, dan lain-lain.

Kandungan nutrisi sorgum cukup tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai substitusi beras (makanan pokok), juga bisa untuk makanan sampingan (makanan kecil seperti beraneka kue). Sementara untuk pakan ternak, sorgum bisa digunakan untuk pengganti jagung. Dalam perkembangan era modern, sorgum makin banyak diteliti dalam riset laboratorium untuk kemampuannya menjadi sumber energi alternatif pengganti bahan bakar fosil. Ada tiga puluh jenis sorgum, beberapa di antaranya antara lain: Sorghum burmahicumSorghum controversumSorghum drummondiiSorghum ecarinatumSorghum exstansSorghum grandeSorghum halepense. Sorghum interjectum,Sorghum intrans,Sorghum laxiflorum.

Penyiapan Lahan Budidaya Salak Pondoh

Pada hakikatnya, cara budidaya sorgum dapat ditanam di semua jenis tanah, dari yang kering (kurang air) hingga yang basah. Untuk cara menanam, olah dan gemburkan lahan terlebih dahulu dengan cara mencangkuli atau membajaknya. Langkah-langkah yang harus dilakukan, cara tanam pada akhir musim penghujan atau awal musim kemarau. Jarak tanam dapat menyesuaikan varietas yang hendak ditanam. Namun sebagai patokan teknik budidaya, varietas dengan ukuran pendek dan sedang memerlukan jarak tanam yang lebih dekat daripada jarak tanam varietas dengan ukuran yang lebih tinggi. Untuk monokultur, 40 x 20 cm per 2 tanaman/lubang, 30 x 20 cm per 1 tanaman/lubang. Sementara untuk polikultur, 200 x 25 cm (satu baris), 75 x 25 x 400 cm (dua baris), dengan benih ditanam secara ditugal 3-5 biji per lubang.

Proses Budidaya Salak Pondoh

  1. Pemupukan. Pemupukan tanaman sorgum dilakukan dengan pupuk kandang maupun pupuk buatan NPK dengan kebutuhan paling banyak akan nitrogen, dengan dosis pada umumnya, 200 kg Urea, 50 kg KCl 50 kg KCl , dan 100 kg TSP (atau SP36).
  2. Penyiangan. Rajin-rajinlah dalam menyiangi untuk membersihkan lahan sorgum dari hama tanaman (gulma). Cabut atau cangkul tanaman pengganggu sampai seakar-akarnya.
  3. Penggemburan. Penggemburan dilakukan dengan menggemburkan tanah di sekitar tanaman salak pondoh dan menimbunkan tanah menjadi gundukan-gundukan di pangkal salak pondoh dengan tujuan menguatkan batang tanaman.
  4. Pengendalian hama dan penyakit. Pengendalian hama (serangga, dan lain-lain.) dan penyakit untuk tindakan preventif. Sebagaimana pada proses penanaman tanaman (budidaya, perkebunan, kehutanan, dan sebagainya) lainnya, rajin-rajinlah melakukan penyemprotan insektisida dan pestisida, asal dosisnya sesuai anjuran serta tanpa berlebihan dalam pelaksanaannya. Sorgum sudah siap panen sekitar 3 sampai 4 bulan, sesuai varietasnya, dengan ciri umum daun menguning, biji pecah kalau digigit, dan kadar tepung pada biji-bijinya telah mencapai maksimal.
  5. Perlakuan pasca panen. Perlakuan pasca panen adalah dengan pengeringan, perontokan, dan penyimpanan. Pengeringan dilakukan dengan menjemur hasil panen salak pondoh selama lebih-kurang 60 jam sampai kadar airnya tinggal tersisa 10-12% supaya saat disimpan tidak timbul jamur. Perontokan dilakukan secara modern menggunakan mesin perontok sorgum maupun secara tradisional melalui proses pemukulan memakai kayu hingga biji terlepas. Penyimpanan dilakukan di gudang yang kering dan tidak lembap serta dengan bahan padat selain dari bahan besi, dan sebelumnya biji harus dalam keadaan utuh, bersih, dan kering.
Pin It

↑ Back to Top